Sulawesi Barat, salah satu provinsi termuda di Indonesia, memiliki sejarah yang sarat dengan perjuangan dan harapan. Terbentuk pada tahun 2004, provinsi ini awalnya menghadapi tantangan besar dalam hal infrastruktur, ekonomi, dan sumber daya manusia. Di balik keberhasilan pembentukan dan pembangunan Sulawesi Barat, terdapat seorang tokoh sentral, yaitu Anwar Adnan Saleh, yang menjadi Gubernur pertama provinsi ini.
Lahir di desa Aralle, Kabupaten Mamasa, pada 20 Agustus 1948, Anwar Adnan Saleh datang dari keluarga sederhana dan tumbuh dalam keterbatasan. Namun, perjalanan hidupnya yang penuh liku membawa dia ke posisi kepemimpinan tertinggi di provinsi ini, di mana ia berhasil membangun fondasi kokoh bagi Sulawesi Barat untuk berkembang pesat.
Lahirnya Provinsi dan Perjuangan Awal Sulawesi Barat resmi menjadi provinsi ke-33 di Indonesia pada tahun 2004 setelah perjuangan panjang dari para tokoh lokal dan nasional. Anwar Adnan Saleh adalah salah satu figur utama yang memperjuangkan terbentuknya provinsi ini. Dengan cucuran keringat, pemikiran, dan air mata, ia bersama tokoh lainnya mewujudkan harapan masyarakat Sulawesi Barat untuk berdiri di atas tanahnya sendiri.
"Tiba pada suatu titik ketika saya dipercayakan rakyat menjadi gubernur definitif pertama di provinsi ke-33 di Indonesia ini, hanya satu motivasi yang ada dalam hidup saya: mudah-mudahan dengan memperjuangkan provinsi ini, daerah ini bisa keluar dari keterbelakangan."
Kutipan ini menunjukkan motivasi besar Anwar untuk memajukan daerah yang pada saat itu masih jauh tertinggal dari provinsi lain di Indonesia.
Kilometer Nol dan Tantangan Infrastruktur Memimpin sebuah provinsi baru bukanlah hal mudah, apalagi dengan segala keterbatasan yang dihadapi. Di tahun-tahun pertama kepemimpinannya, Anwar dihadapkan dengan realitas pahit: Sulawesi Barat nyaris tidak memiliki infrastruktur yang memadai. Provinsi ini seperti dimulai dari "Kilometer Nol."
"Periode pertama memang agak sulit karena semua serba dimulai dari Kilometer Nol. Kita tidak punya apa-apa—tidak ada kantor, tidak ada rumah, tidak ada infrastruktur."
Namun, Anwar tidak menyerah. Dengan tekad yang kuat, ia memulai pembangunan dari dasar. Jalan-jalan utama yang menghubungkan Sulawesi Barat dengan provinsi tetangga diperbaiki dan diperluas, memperbaiki akses dan membuka peluang ekonomi yang lebih besar. Infrastruktur dasar seperti kantor pemerintahan, sekolah, dan fasilitas kesehatan juga mulai dibangun.
Pendidikan dan Kesehatan, Pilar Kemajuan Anwar Adnan Saleh sadar bahwa masa depan Sulawesi Barat tidak bisa hanya bertumpu pada pembangunan fisik. Pendidikan dan kesehatan adalah dua pilar utama yang harus diperkuat jika provinsi ini ingin maju. Oleh karena itu, ia berupaya mendirikan perguruan tinggi negeri pertama di Sulawesi Barat, yakni Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), serta beberapa institusi pendidikan tinggi lainnya.
"Dari segi pendidikan, kita bisa menghadirkan beberapa perguruan tinggi negeri seperti Unsulbar, STAIN, dan beberapa sekolah tinggi negeri lainnya. Ini langkah awal untuk mempersiapkan generasi muda Sulawesi Barat agar bisa bersaing di tingkat nasional."
Selain pendidikan, Anwar juga fokus pada pembangunan layanan kesehatan. Salah satu pencapaiannya yang paling signifikan adalah pendirian rumah sakit provinsi yang representatif, meskipun kemudian sempat rusak akibat bencana alam.
Bencana dan Kebangkitan Pada 15 Januari 2021, Sulawesi Barat dilanda gempa bumi berkekuatan 6,2 skala Richter yang mengguncang Kabupaten Majene dan Mamuju, ibukota provinsi. Banyak infrastruktur yang dibangun selama masa kepemimpinan Anwar rusak, termasuk kantor gubernur yang menjadi simbol pembangunan. Bencana ini membawa Sulawesi Barat kembali ke titik nadir.
Namun, Anwar Adnan Saleh menolak untuk menyerah pada keadaan.
"Apapun yang terjadi, kita tidak boleh merasa berkecil hati apalagi berputus asa. Tetap kita harus semangat, bagaimana hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan menghadirkan perubahan di daerah ini."
Dalam masa sulit tersebut, Anwar kembali mengingatkan masyarakat bahwa mereka harus terus bangkit, membangun kembali apa yang telah hancur, dan tidak pernah kehilangan harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Kebangkitan Ekonomi dan Aksesibilitas Di bawah kepemimpinan Anwar, Sulawesi Barat tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pengembangan ekonomi daerah. Pembangunan infrastruktur yang ia lakukan membuka akses antarprovinsi, yang pada gilirannya membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
"Kehadiran infrastruktur memudahkan akses penghubung Sulbar dengan provinsi lainnya, menjadikan perekonomian masyarakat dan daerah ini semakin maju dan terbuka."
Perdagangan dan pertanian menjadi lebih mudah dengan jalan-jalan yang lebih baik, sementara sektor pariwisata mulai berkembang seiring dengan meningkatnya aksesibilitas ke berbagai destinasi alam yang indah di Sulawesi Barat.
Dukungan di Balik Layar Di balik kesuksesan Anwar Adnan Saleh, ada seorang perempuan kuat yang selalu mendampinginya—Henny Anggraini Anoa, sang istri. Anwar selalu mengakui bahwa tanpa dukungan dan motivasi dari istrinya, perjuangannya tidak akan semudah yang terlihat.
"Bukan hanya karena saya sukses di pemerintahan, ketika saya jadi pengusaha pun saya merasakan hal yang sama. Kesuksesan itu ada karena seorang perempuan di samping saya, yang selalu mendorong dan memberi motivasi, serta tidak pernah mengeluh dalam situasi apa pun."
Bersama, mereka menjalani pahit getir kehidupan, baik sebagai pasangan suami istri maupun sebagai pasangan pemimpin dan pendukung dalam membangun Sulawesi Barat.
Warisan Anwar Adnan Saleh Anwar Adnan Saleh telah meletakkan dasar bagi pembangunan Sulawesi Barat yang lebih baik. Meski ia tidak lagi menjabat, semangat dan dedikasinya terus hidup di antara masyarakat. Di usia yang tidak muda lagi, ia tetap aktif memberikan motivasi kepada generasi muda Sulawesi Barat agar bangga menjadi putra-putri daerah dan terus berjuang untuk kemajuan tanah kelahiran mereka.
"Walaupun dengan usia yang tidak muda lagi, perjuangan tidak akan pernah pudar. Saya berharap generasi muda Sulawesi Barat akan terus berjuang untuk membuat daerah ini lebih baik dari hari ke hari."
Penutup
Kisah Anwar Adnan Saleh bukan hanya tentang pembangunan fisik sebuah provinsi, tetapi juga tentang semangat pantang menyerah dan kecintaan pada tanah kelahiran. Ia berhasil membuktikan bahwa dengan tekad, kerja keras, dan dukungan dari masyarakat, sebuah provinsi yang dimulai dari "Kilometer Nol" bisa bergerak maju dan berkembang menjadi provinsi yang memiliki masa depan cerah.
Kisahnya adalah inspirasi bagi generasi muda Sulawesi Barat dan seluruh Indonesia bahwa tidak ada yang mustahil jika kita terus berjuang. "Tak ada kata menyerah bagi sebuah perjuangan."
Komentar
Posting Komentar